Memasuki bulan Desember,
momen yang menjadi akhir dari berbagai rutinitas mahasiswa seperti kegiatan perkuliahan
di semester ganjil dan kehidupan organisasi di kampus. Menyoroti kehidupan
organisasi di kampus, akhir tahun selalu menjadi momen di mana banyak terjadi
dinamika organisasi di masa transisi pergantian kepengurusan. Dinamika itu
dapat muncul dari kegiatan yang menjadi pertanggungjawaban di akhir periode maupun
persiapan pergantian kepengurusan untuk satu tahun ke depan. Kita pun kemudian
mengenal Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira), pemilihan langsung dari mahasiswa menentukan
pemimpin organisasi mahasiswa untuk satu tahun ke depan. Pemira inilah bentuk demokrasi kampus yang
didesain layaknya Pemilu yang sebenarnya, ada masa pendaftaran calon,
verifikasi, kampanye, debat terbuka, dll. Dengan waktu pelaksanaan satu bulan,
Pemira ini mungkin menjadi hegemoni acara kampus di akhir tahun.
“Pemira, apa gunanya? Kenapa ga orang-orang
aktif organisasi aja yang milih, toh siapapun yang kepilih dan bakal mimpin ga
ada ngaruh-ngaruhnya sama kehidupan aku.”
Perkataan ini
mungkin sering kita dengar dari teman-teman kita yang acuh tak acuh terhadap
dinamika organisasi di kampus, ataupun teman yang berpandangan bahwa memang
kehadiran pemimpin baru dengan organisasi mahasiswanya tidak memberikan pengaruh
pada dirinya. Benarkah opini mengenai Pemira itu? Tentu saja kita mengatakan
salah ketika Pemira itu dikatakan tidak berguna, karena disinilah proses pergantian
kepengurusan untuk menghasilkan pemimpin terbaik itu terjadi. Pemira adalah
bentuk demokrasi dalam kampus, seluruh mahasiswa berhak memilih pemimpin yang
dianggap terbaik dan layak mengemban tanggungjawab organisasi. Esensi utama
dari penyelenggaraan Pemira ini adalah bagaimana Pemilihan ketua organisasi ini
bukan semata voting mencari idola kampus semata, tetapi juga bentuk kepedulian
kita pada kehidupan mahasiswa secara keseluruhan, Pemira adalah bentuk
partisipasi demokrasi yang mengharapkan perubahan lebih baik bagi kehidupan
mahasiswa secara keseluruhan.
Secara umum,
tahapan pelaksanaan Pemira terdiri atas pendaftaran calon, proses pemenuhan
persyaratan agar lolos verifikasi, verifikasi dan penetapan calon, masa
kampanye, debat terbuka, hari tenang, dan hari H pemilihan calon. Setiap
tahapan menjadi ujian bagi calon untuk menjadi pemimpin untuk siap mengemban
tanggungjawab besar. Ada hal kemudian yang menjadi daya tarik dalam tahapan
Pemira ini yaitu masa kampanye calon. Masa kampanye inilah adu kreativitas dari
masing-masing calon untuk menarik simpati mahasiswa sebagai pemilih. Banyak hal
yang dapat dilakukan, baik melalui media fisik (poster, flyer, x banner,
baliho, spanduk, dll), media elektronik (media social, fb, twitter, blog),
maupun kampanye kreatif lain secara tulisan maupun lisan, yel-yel, pawai, orasi
publik, dll. Periode inilah yang menjadi momen paling penting bagi calon untuk “memenangkan”
Pemira karena disinilah lobi-lobi, ajang promosi, serta kesempatan memperoleh
peluang suara dari swing voters(pemilih
yang belum menentukan pilihan), sehingga setiap calon dan tim sukses berusaha
maksimal dalam masa kampanye ini. Adu visi misi, janji program kerja, serta
strategi dilakukan di sini. Banyak hal yang dapat terjadi di masa kampanye ini,
termasuk sisi “kontroversial” ditunjukkan dalam usaha merebut simpati pemilih. Meskipun hal seperti ini tidak terjadi di
penyelenggaraan Pemira yang pernah ada, tetapi pancingan untuk mendiskreditkan
calon lain maupun mengarahkan secara paksa pada calon dimiliki selalu menjadi
bumbu tak sedap dalam Pemira ini. Prinsip yang harus kita pegang adalah
bagaimana segala sesuatu yang dibangun dalam proses yang tidak baik, meskipun
mendapatkan hasil yang diinginkan tentu tak sepenuhnya lancar dalam pelaksanaan,
karena dibangun dari proses yang tidak baik tersebut.
Pada akhirnya,
apa sebenarnya nilai yang dapat diambil dari Pemira itu? Dua kata: Semangat
Mencerdaskan! Mengapa semangat mencerdaskan? Karena disini adalah momen penentuan
bagaimana kehidupan mahasiswa satu tahun ke depan, proses pemilihan pribadi
terbaik yang mampu mengemban tanggungjawab besar, banyak hal besar dipertaruhkan
di Pemira ini. Jadikan Pemira ini bukan reality
show idola kampus semata, adu popularitas dengan pengenalan personal ke
khalayak umum saja, tetapi bagaimana “ada sesuatu yang dibawa” pada proses
penyelenggaraan Pemira ini. Berikan pemilih gambaran masa depan serta visi satu
tahun ke depan tentang perubahan positif yang bisa diwujudkan, gelorakan
kreativitas untuk memperoleh simpati pemilih dengan interaksi dua arah, bukan
hanya proses promosi tetapi juga media aspirasi dari pemilih terkait masalah
yang seharusnya bisa diselesaikan. Jadikan adu visi misi dan perdebatan sajian
kompetitif menonjolkan kelebihan program yang disusun satu tahun ke depan,
tidak hanya debat tanpa arah dan esensi. Sebarkan semangat mencerdaskan ini
sebagai upaya kita menjawab pernyataan orang yang cenderung acuh tak acuh
terhadap organisasi ini dengan ikut merangkul mereka, mendengarkan aspirasi
mereka sehingga keberadaaan organisasi ini semakin terasa sebagai lembaga yang
mengakomodir kepentingan mahasiswanya. Ada quote
menarik sebagai pesan di masa kampanye ini “Bantu kami yang akan membantu anda nantinya”. Jadikan proses
Pemira ini tidak hanya komunikasi satu arah untuk mengenalkan calon dan rencana
kerjanya, tetapi jadikan proses dua arah komunikasi interaktif untuk
mendengarkan apa yang menjadi masalah periode lalu serta aspirasi mahasiswa
untuk ke depan sebagai bahan yang disusun membangun rencana kerja organisasi ke
depan. Berusahalah gelorakan kreativitas, inovasi sehingga menambah hingar
bingar pelaksanaan Pemira ini. Mari kobarkan semangat mencerdaskan ini, demi
terwujudnya Pemira yang sehat, adu kompetensi calon yang sportif, Pemira yang
lebih bermanfaat bagi seluruh mahasiswa, hingar bingar Pemira yang atraktif,
serta masa depan kepemimpinan organisasi yang lebih baik. Semangat
berdemokrasi, Semangat Mencerdaskan!
keren bro... setidaknya sy bs paham sdikit mengenai dinamika kehidupan organisasi kemahasiswaan di FE-UGM ndk membatasi status "keluarga mahasiswa" dan "non-keluarga mahasiswa"
BalasHapus