BEM
Refleksi
dan Relevansi
Masa Kini
BEM?
Mahasiswa?
Tukang Demo?
Sekelompok mahasiswa kurang kerjaan???
Statemen di
atas itu muncul dari masyarakat, ataupun orang-orang yang dengan keawaman,
ketika pertanyaan “apa itu Badan Eksekutif Mahasiswa”diberikan kepada mereka. Ada semacam keprihatinan yang muncul,
entah itu bersumber dari ketidaktahuan masyarakat luar tentang apa yang
dilakukan mahasiswa saat ini dalam
pergerakannya di BEM ataupun tidak relevannya pergerakan mahasiswa di BEM saat
ini sehingga lebih banyak menimbulkan efek destruktif di mata masyarakat
daripada memberikan keadaan yang lebih baik bagi orang lain. Tentunya
kesalahpahaman persepsi ini tidak bisa dibiarkan, mengingat mahasiswa dan
masyarakat adalah komponen utama yang diharapkan dapat bersinergi bersama,
untuk mewujudkan perubahan lingkungan yang lebih baik.
Sebenarnya, apa sih Badan Eksekutif
Mahasiswa? Ngapain aja kerjaan
mereka? Apa iya, mereka segolongan mahasiswa dengan idealisme tinggi yang hanya
bisa teriak tuntutan pada pemerintah dengan aksi demonstrasi dan bakar ban?
Segala sesuatu yang dibentuk tentunya membawa niat baik dan cita-cita yang
ingin diwujudkan. Demikian pula BEM, mereka ada, mereka bergerak tentu membawa
misi dan cita-cita yang baik. Tak kenal maka tak sayang, tentunya kita perlu
mengetahui apa itu BEM, bagaimana BEM dari masa ke masa sehingga kita dapat
mengerti apa yang mereka perjuangkan, serta relevansi gerakan mereka masa ini.
Badan Eksekutif Mahasiswa, adalah
simbol/identitas pergerakan mahasiswa. Sejarah mencatat bagaimana BEM mengalami
banyak perubahan dalam nama, tetapi hal yang sama untuk menyebut BEM dari masa
ke masa adalah pergerakan mahasiswa. Sejarah mencatat bagaimana pergerakan
mahasiswa ini adalah tonggak perubahan perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan
melalui jalur diplomasi. Pergerakan baru ini dimotori juga oleh mahasiswa
Indonesia sebagai kaum terpelajar, dengan membentuk organisasi pemuda seperti
Tri Koro Darmo, Jong Sumatra, Jong Celebes, dll. Inisiasi untuk membetuk
organisasi pemuda ini mencapai puncaknya dengan diselenggarakannya Kongres
Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Momen tersebut menjadi salah satu titik
penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan, di mana pemuda menjadi aktor
utamanya. Momen sumpah pemuda ini juga menunjukkan perlawanan merebut
kemerdekaan yang sebenarnya dengan bersatu dalam “Indonesia”, melawan melalui
pergerakan dalam wadah intelektual, tanpa pertumpahan darah. Peristiwa tersebut
juga menandai peran penting kaum muda sebagai elemen yang memperjuangkan
kemerdekaan, dengan tokoh-tokoh muda pergerakan nasional saat itu seperti Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta
bahkan menjadi proklamator kemerdekaan di tahun 1945. Momen bersejarah
Indonesia, pembebasan belenggu penjajahan, menjadi prestasi pemuda dengan
pergerakan tanpa lelahnya, kecerdasan untuk berjuang dalam wadah
intelektualitasnya, serta komitmen untuk
bersatu, bersama-sama dengan berani melawan ketidakadilan dan kejahatan yang
menyengsarakan.
Pergerakan pemuda terpelajar, yang
diasosiasikan saat ini sebagai mahasiswa terus berjalan pasca merdeka, melewati
berbagai masa, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dengan esensi sama: berusaha
bergerak dengan semangat, jiwa kritis, dan keberaniannya menolak ketidakadilan,
membela kebenaran hakiki dan kaum lemah melawan kesengsaraan. Orde Lama
ditandai dengan pergerakan tokoh mahasiswa yang sangat terkenal sebagai legenda
pergerakan mahasiswa saat ini, dengan berani dengan kata-katanya yang terkenal
“lebih baik diasingkan daripada menyerah
pada kemunafikan”. Munculnya Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang dicetuskan
oleh mahasiswa menjadi salah satu poin penting peran mahasiswa mengatasi
masalah PKI dan keterpurukan ekonomi yang terjadi saat itu. Orde Baru mengenal
beberapa kali pergerakan mahasiswa yang menolak kesewenang-wenangan pemerintah
Peristiwa tahun 1974 yang terkenal dengan sebutan “Malari”(Malapetaka Lima Belas Januari) dimana terjadi kerusuhan,
terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti hingga peristiwa 21 Mei 1998 turunnya Soeharto
menunjukkan hasil pergerakan mahasiswa yang sempat mengalami pasang surut tensi
pergerakan. Dinamika pergerakan mahasiswa yang terjadi di Orde Lama dan Baru
ini menunjukkan karakteristik pergerakan mahasiswa yang kritis, menolak dengan
tegas kesewenangan, sehingga menjadi kekuatan besar yang ditakuti oleh
pemerintah saat itu. Bentuk pergerakan mahasiswa saat itu dengan aksi
demonstrasinya, propaganda bawah tanah, diskusi dan kajian kritis menelusuri
penyimpangan yang disembunyikan menjadi kekuatan serta model pergerakan ideal yang
dicita-citakan mahasiswa hingga saat ini.
Memasuki era reformasi dengan
kebebasan berpendapat, dengan dinamika kehidupan bernegara yang lebih
demokratis, pergerakan mahasiswa pun bertransformasi menjadi berbagai lembaga
eksekutif yang lebih terstruktur, dinamis, tetap dengan nafas dan semangat
pergerakan yang sama. Periode demokratisasi dengan kebebasan berpendapat ini
memicu semakin banyaknya pergerakan mahasiswa dalam bentuk aksi demonstrasi,
menolak serta menyampaikan tuntutan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat.
Model pergerakan yang dianggap ideal seperti pada Orde Lama dan Baru kembali
digunakan untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa yang peduli terhadap
permasalahan bangsa. Pertanyaan pun muncul : masih relevankah model pergerakan
mahasiswa dengan aksi untuk menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan bangsa
itu digunakan?
Memasuki tahun 2013, melewati satu
dekade setelah pergantian millennium kedua, 15 tahun setelah Orde Reformasi
bergulir, bagaimanakah seharusnya pergerakan mahasiswa masa ini? Bagaimana
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai simbol pergerakan mahasiswa mewujudkan
tujuan dan misi-misinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita harus
melihat dinamika kehidupan, kondisi politik, serta masalah yang berkembang di
masyarakat saat ini. Limabelas tahun reformasi berjalan, banyak perubahan
positif-negatif yang terjadi di Indonesia saat ini. Hal positif di sini adalah
bagaimana demokrasi, kebebasan berpendapat, stabilitas ekonomi dengan
pertumbuhan positif membawa kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan dan gaya
kehidupan masyarakat. Stabilitas ini juga membawa kemudahan bagi masyarakat
untuk memanfaatkan berbagai fasilitas, seperti pendidikan murah, transportasi,
kemudahan birokrasi dll. Namun, di balik itu semua banyak ancaman dan fenomena
negatif yang menjadi keresahan seperti isu kedaulatan dan neoliberalisme,
ketahanan pangan dan energi, serta ketidakpastian dalam penegakan hukum dan
instabilitas politik seperti korupsi, politik daging sapi, tersandera, dll.
Fenomena yang terjadi ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk bergerak, bagaimana
memanfaatkan hal positif yang berkembang dan mencari solusi pemecahan masalah
yang terjadi. Mereka dapat bergerak dengan sisi intelektualitasnya, bergerak
dengan pemahaman mengidentifikasi masalah dan memecahkannya, memulai dengan
langkah sederhana menciptakan perubahan positif. Kenyataan yang terjadi saat
ini adalah bagaimana mahasiswa lebih memilih bergerak turun ke jalan,
memperjuangkan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah dan memprotes apa yang tidak
seharusnya dilakukan. Aksi turun ke jalan, melakukan demonstrasi bukanlah hal
yang salah karena secara histori upaya demonstrasi dan turun ke jalan mahasiswa
membawa arah perubahan untuk menurunkan rezim yang telah melakukan penyimpangan
kekuasaan. Demonstrasi bukan hal yang salah untuk dilakukan mahasiswa, tetapi
apakah kita berhenti pada upaya menuntut pemerintah untuk bertransformasi lebih
baik?
Menuju bagian akhir tulisan ini,
adalah bagaimana kita merenungi dan
kembali berpikir bagaimana relevansi BEM sebagai identitas pergerakan mahasiswa
saat ini. Kalau bisa ditarik bagaimana esensi BEM yang sama dari masa ke masa
adalah, pertama, Badan Eksekutif Mahasiswa adalah organisasi dengan prinsip
gerakan “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk
lainnya(masyarakat). Kedua, adalah BEM adalah wadah pergerakan intelektual
mahasiswa, bergerak dengan cerdas, taktis, berpegang pada pemahaman dan dasar
pemikiran. Ketiga, BEM dibentuk dengan semangat perlawanan pemuda untuk mencari
solusi atas permasalahan, keluar dari rezim penuh kegelapan. Tiga esensi BEM
yang sama dari masa ke masa ini yang harus kita bawa sebagai nafas pergerakan
mahasiswa sebagai intelektual yang mencerdaskan. BEM dan Mahasiswa memiliki
peran membawa bangsa ini lebih baik, dan harapan itu harus dimulai dengan
langkah sederhana yang konstruktif, membawa perubahan positif yang dirasakan
masyarakat. Masyarakat saat ini membutuhkan gerakan konkrit, demokratisasi
membuat semua orang mudah “bicara janji” tanpa ada realisasi dan bukti.
Bergerak tidak hanya dengan kritis melihat yang jauh tentang isu nasional di
pemerintah pusat sana, tetapi juga peduli yang tampak dan hadir di sekitar
kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, bergerak sesuai pemahaman, mahasiswa
tidak hanya harapan, tetapi kenyataan yang hadir untuk membawa perubahan lebih
baik. Sekali lagi bicara relevansi, bahwa 2013 ini adalah tahun di mana kita
tidak bisa hanya berbicara tentang apa yang terjadi di bangsa ini, tetapi
menjadikan bangsa ini lebih berbicara atas pencapaian positif yang dicapai.
Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa dengan simbol utama pergerakan mahasiswa,
mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, bergerak dengan prinsip sebagaimana
yang dikatakan John F Kennedy “Jangan katakan apa yang negara berikan padamu, tetapi
katakana apa yang bisa kamu berikan pada negara”. Negara menantimu, masyarakat
mengharapkan peranmu, bergerak dengan pencerdasan, menolak ketidakadilan, mari
bergerak bersama, Badan Eksekutif Mahasiswa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar