Jumat, 22 Februari 2013

BEM Refleksi dan Relevansi Masa Kini



BEM
Refleksi dan Relevansi
Masa Kini


BEM?
Mahasiswa?
Tukang Demo?
Sekelompok mahasiswa kurang kerjaan???

Statemen di atas itu muncul dari masyarakat, ataupun orang-orang yang dengan keawaman, ketika pertanyaan “apa itu Badan Eksekutif Mahasiswa”diberikan kepada  mereka. Ada semacam keprihatinan yang muncul, entah itu bersumber dari ketidaktahuan masyarakat luar tentang apa yang dilakukan mahasiswa saat ini  dalam pergerakannya di BEM ataupun tidak relevannya pergerakan mahasiswa di BEM saat ini sehingga lebih banyak menimbulkan efek destruktif di mata masyarakat daripada memberikan keadaan yang lebih baik bagi orang lain. Tentunya kesalahpahaman persepsi ini tidak bisa dibiarkan, mengingat mahasiswa dan masyarakat adalah komponen utama yang diharapkan dapat bersinergi bersama, untuk mewujudkan perubahan lingkungan yang lebih baik.

            Sebenarnya, apa sih Badan Eksekutif Mahasiswa? Ngapain aja kerjaan mereka? Apa iya, mereka segolongan mahasiswa dengan idealisme tinggi yang hanya bisa teriak tuntutan pada pemerintah dengan aksi demonstrasi dan bakar ban? Segala sesuatu yang dibentuk tentunya membawa niat baik dan cita-cita yang ingin diwujudkan. Demikian pula BEM, mereka ada, mereka bergerak tentu membawa misi dan cita-cita yang baik. Tak kenal maka tak sayang, tentunya kita perlu mengetahui apa itu BEM, bagaimana BEM dari masa ke masa sehingga kita dapat mengerti apa yang mereka perjuangkan, serta relevansi gerakan mereka masa ini.

            Badan Eksekutif Mahasiswa, adalah simbol/identitas pergerakan mahasiswa. Sejarah mencatat bagaimana BEM mengalami banyak perubahan dalam nama, tetapi hal yang sama untuk menyebut BEM dari masa ke masa adalah pergerakan mahasiswa. Sejarah mencatat bagaimana pergerakan mahasiswa ini adalah tonggak perubahan perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan melalui jalur diplomasi. Pergerakan baru ini dimotori juga oleh mahasiswa Indonesia sebagai kaum terpelajar, dengan membentuk organisasi pemuda seperti Tri Koro Darmo, Jong Sumatra, Jong Celebes, dll. Inisiasi untuk membetuk organisasi pemuda ini mencapai puncaknya dengan diselenggarakannya Kongres Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Momen tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan, di mana pemuda menjadi aktor utamanya. Momen sumpah pemuda ini juga menunjukkan perlawanan merebut kemerdekaan yang sebenarnya dengan bersatu dalam “Indonesia”, melawan melalui pergerakan dalam wadah intelektual, tanpa pertumpahan darah. Peristiwa tersebut juga menandai peran penting kaum muda sebagai elemen yang memperjuangkan kemerdekaan, dengan tokoh-tokoh muda pergerakan nasional saat itu  seperti Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta bahkan menjadi proklamator kemerdekaan di tahun 1945. Momen bersejarah Indonesia, pembebasan belenggu penjajahan, menjadi prestasi pemuda dengan pergerakan tanpa lelahnya, kecerdasan untuk berjuang dalam wadah intelektualitasnya,  serta komitmen untuk bersatu, bersama-sama dengan berani melawan ketidakadilan dan kejahatan yang menyengsarakan.
            Pergerakan pemuda terpelajar, yang diasosiasikan saat ini sebagai mahasiswa terus berjalan pasca merdeka, melewati berbagai masa, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dengan esensi sama: berusaha bergerak dengan semangat, jiwa kritis, dan keberaniannya menolak ketidakadilan, membela kebenaran hakiki dan kaum lemah melawan kesengsaraan. Orde Lama ditandai dengan pergerakan tokoh mahasiswa yang sangat terkenal sebagai legenda pergerakan mahasiswa saat ini, dengan berani dengan kata-katanya yang terkenal “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Munculnya Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang dicetuskan oleh mahasiswa menjadi salah satu poin penting peran mahasiswa mengatasi masalah PKI dan keterpurukan ekonomi yang terjadi saat itu. Orde Baru mengenal beberapa kali pergerakan mahasiswa yang menolak kesewenang-wenangan pemerintah Peristiwa tahun 1974 yang terkenal dengan sebutan “Malari”(Malapetaka Lima Belas Januari) dimana terjadi kerusuhan, terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti  hingga peristiwa 21 Mei 1998 turunnya Soeharto menunjukkan hasil pergerakan mahasiswa yang sempat mengalami pasang surut tensi pergerakan. Dinamika pergerakan mahasiswa yang terjadi di Orde Lama dan Baru ini menunjukkan karakteristik pergerakan mahasiswa yang kritis, menolak dengan tegas kesewenangan, sehingga menjadi kekuatan besar yang ditakuti oleh pemerintah saat itu. Bentuk pergerakan mahasiswa saat itu dengan aksi demonstrasinya, propaganda bawah tanah, diskusi dan kajian kritis menelusuri penyimpangan yang disembunyikan menjadi kekuatan serta model pergerakan ideal yang dicita-citakan mahasiswa hingga saat ini.
           
            Memasuki era reformasi dengan kebebasan berpendapat, dengan dinamika kehidupan bernegara yang lebih demokratis, pergerakan mahasiswa pun bertransformasi menjadi berbagai lembaga eksekutif yang lebih terstruktur, dinamis, tetap dengan nafas dan semangat pergerakan yang sama. Periode demokratisasi dengan kebebasan berpendapat ini memicu semakin banyaknya pergerakan mahasiswa dalam bentuk aksi demonstrasi, menolak serta menyampaikan tuntutan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Model pergerakan yang dianggap ideal seperti pada Orde Lama dan Baru kembali digunakan untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa yang peduli terhadap permasalahan bangsa. Pertanyaan pun muncul : masih relevankah model pergerakan mahasiswa dengan aksi untuk menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan bangsa itu digunakan?

            Memasuki tahun 2013, melewati satu dekade setelah pergantian millennium kedua, 15 tahun setelah Orde Reformasi bergulir, bagaimanakah seharusnya pergerakan mahasiswa masa ini? Bagaimana Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai simbol pergerakan mahasiswa mewujudkan tujuan dan misi-misinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita harus melihat dinamika kehidupan, kondisi politik, serta masalah yang berkembang di masyarakat saat ini. Limabelas tahun reformasi berjalan, banyak perubahan positif-negatif yang terjadi di Indonesia saat ini. Hal positif di sini adalah bagaimana demokrasi, kebebasan berpendapat, stabilitas ekonomi dengan pertumbuhan positif membawa kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan dan gaya kehidupan masyarakat. Stabilitas ini juga membawa kemudahan bagi masyarakat untuk memanfaatkan berbagai fasilitas, seperti pendidikan murah, transportasi, kemudahan birokrasi dll. Namun, di balik itu semua banyak ancaman dan fenomena negatif yang menjadi keresahan seperti isu kedaulatan dan neoliberalisme, ketahanan pangan dan energi, serta ketidakpastian dalam penegakan hukum dan instabilitas politik seperti korupsi, politik daging sapi, tersandera, dll. Fenomena yang terjadi ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk bergerak, bagaimana memanfaatkan hal positif yang berkembang dan mencari solusi pemecahan masalah yang terjadi. Mereka dapat bergerak dengan sisi intelektualitasnya, bergerak dengan pemahaman mengidentifikasi masalah dan memecahkannya, memulai dengan langkah sederhana menciptakan perubahan positif. Kenyataan yang terjadi saat ini adalah bagaimana mahasiswa lebih memilih bergerak turun ke jalan, memperjuangkan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah dan memprotes apa yang tidak seharusnya dilakukan. Aksi turun ke jalan, melakukan demonstrasi bukanlah hal yang salah karena secara histori upaya demonstrasi dan turun ke jalan mahasiswa membawa arah perubahan untuk menurunkan rezim yang telah melakukan penyimpangan kekuasaan. Demonstrasi bukan hal yang salah untuk dilakukan mahasiswa, tetapi apakah kita berhenti pada upaya menuntut pemerintah untuk bertransformasi lebih baik?
            Menuju bagian akhir tulisan ini, adalah bagaimana  kita merenungi dan kembali berpikir bagaimana relevansi BEM sebagai identitas pergerakan mahasiswa saat ini. Kalau bisa ditarik bagaimana esensi BEM yang sama dari masa ke masa adalah, pertama, Badan Eksekutif Mahasiswa adalah organisasi dengan prinsip gerakan “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk lainnya(masyarakat). Kedua, adalah BEM adalah wadah pergerakan intelektual mahasiswa, bergerak dengan cerdas, taktis, berpegang pada pemahaman dan dasar pemikiran. Ketiga, BEM dibentuk dengan semangat perlawanan pemuda untuk mencari solusi atas permasalahan, keluar dari rezim penuh kegelapan. Tiga esensi BEM yang sama dari masa ke masa ini yang harus kita bawa sebagai nafas pergerakan mahasiswa sebagai intelektual yang mencerdaskan. BEM dan Mahasiswa memiliki peran membawa bangsa ini lebih baik, dan harapan itu harus dimulai dengan langkah sederhana yang konstruktif, membawa perubahan positif yang dirasakan masyarakat. Masyarakat saat ini membutuhkan gerakan konkrit, demokratisasi membuat semua orang mudah “bicara janji” tanpa ada realisasi dan bukti. Bergerak tidak hanya dengan kritis melihat yang jauh tentang isu nasional di pemerintah pusat sana, tetapi juga peduli yang tampak dan hadir di sekitar kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, bergerak sesuai pemahaman, mahasiswa tidak hanya harapan, tetapi kenyataan yang hadir untuk membawa perubahan lebih baik. Sekali lagi bicara relevansi, bahwa 2013 ini adalah tahun di mana kita tidak bisa hanya berbicara tentang apa yang terjadi di bangsa ini, tetapi menjadikan bangsa ini lebih berbicara atas pencapaian positif yang dicapai. Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa dengan simbol utama pergerakan mahasiswa, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, bergerak dengan prinsip sebagaimana yang dikatakan John F Kennedy “Jangan katakan apa yang negara berikan padamu, tetapi katakana apa yang bisa kamu berikan pada negara”. Negara menantimu, masyarakat mengharapkan peranmu, bergerak dengan pencerdasan, menolak ketidakadilan, mari bergerak bersama, Badan Eksekutif Mahasiswa!
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar