Jumat, 01 Maret 2013

#YukBerbisnis



#YukBerbisnis

Jadikan bisnis sebagai hobi Anda atau hobi sebagai bisnis Anda”
Bisnis atau lebih popular saat ini dengan kata wirausaha adalah salah satu trending topic prospect yang menjadi cita-cita baru anak muda saat ini. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, entah itu berasal dari dalam berupa dorongan untuk mandiri karena orangtua tidak mampu membiayai, ingin sekolah, kemudian berjualan untuk menutupi biaya sekolahnya. Ada juga faktor eksternal seperti banyak potensi alam yang bisa dibudidayakan menghasilkan uang, hidup di lingkungan pengusaha, dll. Mengapa bisnis? Banyak cara untuk menjadi kaya memang, tetapi mengapa harus berbisnis?
            Fakta menunjukkan bahwa 80% harta kekayaan yang berputar di Indonesia ini ‘hanya’ dikuasai 2000 orang Indonesia saja, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha Tionghoa. Logikanya adalah 230 juta kurang 2000 orang Indonesia hanya menikmati 20% harta kekayaan yang berputar di Indonesia ini, meratakah? Targetnya adalah bagaimana 2015, proporsi penguasaan harta kekayaan tersebut bergeser dari 2000 orang menjadi 1,5 juta orang. Bagaimana caranya? Pionirnya adalah membangkitkan gairah orang Indonesia bergerak, memutar uang yang dimilikinya, menjadi pengusaha.
            Pertanyaan selanjutnya adalah, kapan kita mulai berbisnis? Tunggu punya uang banyak dulu? Tentu tidak, banyak cerita menakjukan “kaya mendadak di masa muda” karena memilih memulai dari sekarang menjadi pengusaha. Axl owner “Maicih”, Firmansyah “Cokro Telo” dan banyak cerita justru datang dari usia muda yang sukses menjadi pengusaha. Rekan saya sendiri ada yang memilih tidak kuliah dan menjadi pengusaha. Hasilnya? Omzet ratusan juta bahkan miliaran telah dicapainya dan saat ini dia terkenal menjadi pengusaha belia di Indonesia.
            Selalu sulit untuk memulai, dan hal yang sama terjadi ketika kita ingin memulai langkah untuk berbisnis. Selalu ada kata tetapi… nanti kan… muncul seiring ide bisnis yang hendak kita realisasikan. Apa saja kiat awal untuk yakin dalam berbisnis? Pertama adalah bagaimana menghadirkan ‘power of kepepet’ untuk niat bisnis sehingga terlaksana. Contoh? Mulai dari niat kita mengurangi alokasi uang saku dari orangtua, sehingga hidup sederhana untuk memaksa keluar mencari alternative uang saku lain. Kedua bagaimana nyali itu ada, untuk terjun ke dunia bisnis, siap menghadapi apapun yang terjadi. Kerugian, tidak laku, semuanya adalah tantangan, bukan masalah yang harus diatasi. Ketiga, mulai dari hal yang sederhana, bagaimana dari hal sederhana itu menjadi langkah kreatif yang bisa direalisasikan.
            Selalu ada hambatan untuk mencapai sesuatu, demikian pula kendala dalam berbisnis. Resiko tinggi, tidak terjual, modal habis, tidak untung, menjadi potensi negatif yang kita temui ketika dalam berbisnis. Berhentikah kita sampai di situ? Tentu tidak, masalah datang sebagai tantangan yang harus dihadapi, kegagalan dan kerugian yang didapat adalah ‘jatah negatif’ yang dihabiskan di masa muda ini untuk memetik kejayaan di masa depan. Persiapan matang, konsolidasi internal, kalkulasi dan perhitungan apa yang didapat menjadi kunci untuk mengatasi kendala tersebut. Intinya adalah kembali bagaimana kita bisa “bernyali” untuk menghadapi kendala ini. Jadikan kendala/masalah sebagai tantangan sebagai tolakan untuk mendapatkan hasil positif dari berbisnis ini.
            Banyak cara dari kita yang muda untuk membuat langkah sederhana, berkontribusi positif untuk membangun bangsanya. Berbisnis adalah salah satunya, bagaimana kita mencoba mengaktualisasikan ide untuk membuat usaha. Karena dengan berbisnis dan wirausaha, kita mengurangi ‘beban’negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan, menciptakan kesempatan kerja, serta ikut membangun kesejahteraan. Pemuda adalah harapan, pemuda membawa perubahan, ayo dengan langkah konkret membangun kesejahteraan dengan #YukBerbisnis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar