#YukBerbisnis
“Jadikan bisnis sebagai
hobi Anda atau hobi sebagai bisnis Anda”
Bisnis atau
lebih popular saat ini dengan kata wirausaha adalah salah satu trending topic prospect yang menjadi
cita-cita baru anak muda saat ini. Banyak faktor yang mempengaruhi hal
tersebut, entah itu berasal dari dalam berupa dorongan untuk mandiri karena
orangtua tidak mampu membiayai, ingin sekolah, kemudian berjualan untuk
menutupi biaya sekolahnya. Ada juga faktor eksternal seperti banyak potensi
alam yang bisa dibudidayakan menghasilkan uang, hidup di lingkungan pengusaha,
dll. Mengapa bisnis? Banyak cara untuk menjadi kaya memang, tetapi mengapa
harus berbisnis?
Fakta
menunjukkan bahwa 80% harta kekayaan yang berputar di Indonesia ini ‘hanya’
dikuasai 2000 orang Indonesia saja, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha
Tionghoa. Logikanya adalah 230 juta kurang 2000 orang Indonesia hanya menikmati
20% harta kekayaan yang berputar di Indonesia ini, meratakah? Targetnya adalah
bagaimana 2015, proporsi penguasaan harta kekayaan tersebut bergeser dari 2000
orang menjadi 1,5 juta orang. Bagaimana caranya? Pionirnya adalah membangkitkan
gairah orang Indonesia bergerak, memutar uang yang dimilikinya, menjadi
pengusaha.
Pertanyaan
selanjutnya adalah, kapan kita mulai berbisnis? Tunggu punya uang banyak dulu?
Tentu tidak, banyak cerita menakjukan “kaya mendadak di masa muda” karena
memilih memulai dari sekarang menjadi pengusaha. Axl owner “Maicih”, Firmansyah
“Cokro Telo” dan banyak cerita justru datang dari usia muda yang sukses menjadi
pengusaha. Rekan saya sendiri ada yang memilih tidak kuliah dan menjadi
pengusaha. Hasilnya? Omzet ratusan juta bahkan miliaran telah dicapainya dan
saat ini dia terkenal menjadi pengusaha belia di Indonesia.
Selalu
sulit untuk memulai, dan hal yang sama terjadi ketika kita ingin memulai
langkah untuk berbisnis. Selalu ada kata tetapi… nanti kan… muncul seiring ide
bisnis yang hendak kita realisasikan. Apa saja kiat awal untuk yakin dalam
berbisnis? Pertama adalah bagaimana
menghadirkan ‘power of kepepet’ untuk niat bisnis sehingga terlaksana. Contoh?
Mulai dari niat kita mengurangi alokasi uang saku dari orangtua, sehingga hidup
sederhana untuk memaksa keluar mencari alternative uang saku lain. Kedua bagaimana nyali itu ada, untuk
terjun ke dunia bisnis, siap menghadapi apapun yang terjadi. Kerugian, tidak
laku, semuanya adalah tantangan, bukan masalah yang harus diatasi. Ketiga, mulai dari hal yang sederhana,
bagaimana dari hal sederhana itu menjadi langkah kreatif yang bisa
direalisasikan.
Selalu
ada hambatan untuk mencapai sesuatu, demikian pula kendala dalam berbisnis.
Resiko tinggi, tidak terjual, modal habis, tidak untung, menjadi potensi
negatif yang kita temui ketika dalam berbisnis. Berhentikah kita sampai di
situ? Tentu tidak, masalah datang sebagai tantangan yang harus dihadapi,
kegagalan dan kerugian yang didapat adalah ‘jatah negatif’ yang dihabiskan di
masa muda ini untuk memetik kejayaan di masa depan. Persiapan matang,
konsolidasi internal, kalkulasi dan perhitungan apa yang didapat menjadi kunci
untuk mengatasi kendala tersebut. Intinya adalah kembali bagaimana kita bisa “bernyali”
untuk menghadapi kendala ini. Jadikan kendala/masalah sebagai tantangan sebagai
tolakan untuk mendapatkan hasil positif dari berbisnis ini.
Banyak
cara dari kita yang muda untuk membuat langkah sederhana, berkontribusi positif
untuk membangun bangsanya. Berbisnis adalah salah satunya, bagaimana kita
mencoba mengaktualisasikan ide untuk membuat usaha. Karena dengan berbisnis dan
wirausaha, kita mengurangi ‘beban’negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan,
menciptakan kesempatan kerja, serta ikut membangun kesejahteraan. Pemuda adalah
harapan, pemuda membawa perubahan, ayo dengan langkah konkret membangun
kesejahteraan dengan #YukBerbisnis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar