Jumat, 16 Agustus 2013

Refleksi 68 Tahun Indonesia



“Sudah Cukup Santunkah Kita Mengupayakan Merdeka di Negeri Ini?”

17 Agustus,11.14
Tulisan ini saya buat sebagai curahan hati, sharing¸unek-unek yang bisa jadi renungan kita bersama.  Uraian ini hanya lebih dari sekedar opini, membuka ruang bertukar pendapat. Sebagai seorang Indonesia, agaknya ini bisa menjadi salah satu pertanyaan yang jawabannya tergantung pada masing-masing individu. Sebuah sentilan yang jarang disuarakan, tetapi menjadi hal penting yang akhir-akhir ini hilang dan menimbulkan masalah bagi negeri kita yang telah memasuki usia matang kemerdekaan.

Agustus, bulan dengan fakta sejarah luar biasa yang menentukan bagaimana kita bisa tersenyum, berbicara, dan beraktivitas di bumi pertiwi ini. Bulan yang menggairahkan kita, yang muda, tua, laki-laki, perempuan,anak-anak, dewasa tentang kata “Nasionalisme/cinta tanah air” dengan peringatan 17 Agustus, hari kemerdekaan bangsa yang besar ini. Ragam kegiatan dilakukan, bentuk seremonial, perayaan suka cita, hingga demonstrasi dan dialog kritis digelar untuk menunjukkan bahwa: kita ada, bersama, sadar bahwa kita punya Indonesia, negeri yang dicinta, untuk harapan menjadi semakin mulia ke depannya. Berbagai euforia, semangat, kepedulian digelar, satu hal yang menggelitik saya ketika hampir di setiap perayaan 17 Agustus ini kita berhadapan pada satu pertanyaan: “Sudahkah kita merdeka saat ini?”

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab menurut saya, dan memiliki berbagai sudut pandang untuk menjawabnya. Perspektif ekonomi, sosial, politik, budaya, teknologi, dan sisi lain memiliki argumen tersendiri untuk menjawab ini. Berbagai tajuk diskusi digelar untuk merenungkan satu pertanyaan kritis ini, mengingat telah matang usia negara Indonesia ini berdiri, ratusan juta penduduk masih belum menemukan keadilan tentang hak memperoleh kemerdekaan ini. Buat saya, ada pertanyaan lain yang dapat menjadi renungan kita bersama selain pertanyaan apakah kita benar-benar merdeka. Bukan berpikir akan hak saja, melainkan kewajiban, dengan pertanyaan: “Sudah cukup santunkah kita untuk mengupayakan kemerdekaan di Indonesia?”

Pikiran ini muncul dalam benak saya melihat apa yang terjadi satu tahun ini di Indonesia. Satu hal yang saat ini sering hilang: “TOLERANSI, SALING MENGHARGAI”. Sebuah pertanyaan yang melempar kita pada ruang introspeksi diri, menjadi renungan mendalam dan menjadi lecutan kita untuk jadi lebih baik dalam berbagai sisi. Saya ingin berpikir agak anti mainstream, ketika pertanyaan apakah kita telah merdeka menjadi lagu wajib yang disuarakan setiap 17 Agustus ini, coba kita ubah menjadi pertanyaan bagi kita sendiri bangsa Indonesia sudah cukup santun menghargai hak-hak kemerdekaan bangsa kita sendiri. 

Coba kita tengok kembali ke belakang ketika pejuang kita merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Semangat kebhinekaan teraktualisasi pada perumusan Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila,bagaimana sisi kemanusiaan, saling menghormati dalam keragaman agama dan budaya menjadi landasan kehidupan bermasyarakat bernegara. Semangat pemuda dari berbagai daerah, berbagai golongan dan kalangan menyatukan berbagai persepsi untuk gagasan kesatuan. Pasca merdeka, perjuangan pun diteruskan, untuk berjuang menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Reformasi menghadirkan kita kebebasan berpendapat, melepas diri dari belenggu penganiayaan atas kritik negara. 15 tahun reformasi ini kita patut bersyukur atas segala kondisi yang kita nikmati di Indonesia saat ini.
Faktanya, hal yang terjadi saat ini adalah bagaimana kita tak bisa menghargai kemerdekaan yang telah dihadirkan dewasa ini. Berbagai masalah terjadi berpangkal pada satu hal: bagaimana kita tidak bisa menghormati hak individu/kelompok masing-masing, memaksakan kehendak pada orang lain. Intoleransi kehidupan beragama, penganiayaan kelompok tertentu, perdebatan memaksakan pendapat masing-masing, diskriminasi, penghinaan kaum tertentu menjadi topik berita yang dihadirkan pada satu tahun ini. Keprihatinan tentu melanda kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal menjunjung budaya kesantunan, menghargai satu sama lain. Kita merdeka sebagai bangsa yang beragam, mengapa kita tak dapat menghormati kemerdekaan ragam bangsa Indonesia kita ini. Bagaimana kita bisa bertanya sudahkah kita merdeka kita seutuhnya apabila kita masih belum bisa menghormati hak dasar dari saudara-saudara kita. Bagaimana kita bisa berharap bangsa ini maju, melesat seutuhnya apabila kita menghalangi saudara kita untuk bergerak berkembang. Bagaimana kita menginginkan negeri kita ini bebas, mengelola kekayaan kita seutuhnya, lepas dari cengkraman negara asing kalau kita sendiri tak dapat melakukan konsolidasi ide, bertekad kuat bersama memperjuangkan kekayaan kita. Bagaimana kita mengharapkan negara ini lepas dari berbagai masalah, kalau kita sendiri tak mengulurkan tangan pada saudara kita untuk lepas dari masalah, bahkan membuat masalah sendiri di tanah air tercinta ini. Bagaimana kita mengharap merdeka ini bebas pemikiran dari hal-hal negatif yang merusak bangsa kalau kita sendiri yang justru membuat fitnah-fitnah yang menyulut konflik antar golongan. Bagaimana kita berharap merdeka ini kita solid, bersatu tanpa adanya pemberontakan tanpa kita berlaku adil dan peduli pada bangsa kita di perbatasan. Ada penelitian menarik bahwa 90%masalah yang terjadi pada kita adalah karena kesalahan kita sendiri. Kalau ini kita asosiasikan pada negara kita, untuk mengatakan ini adalah belenggu merdeka, maka kita perlu melepaskan belenggu merdeka pada bangsa kita, bersikap santun menghormati hak-hak saudara kita.

Akhir tulisan ini saya mengutip wejangan warisan Bung Karno yang dapat membuat kita bisa memahami secara mendalam” Sudahkah, Apakah kita sudah cukup santun mengupayakan merdeka di Indonesia?”
Perjuanganku akan lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

1 komentar:

  1. kalau Indonesia ane rasa blm merdeka semerdeka-merdekanya? knp?
    .dalam merumuskan aturan dan kebijakan, kita masih banyak campur tangan asing secara lgsg ataupun gk lgsg -pernah waktu itu indo mau ttp keran impor diprotes ama pbb
    .kalau masalah hak dan keberagaman rasanya msh sulit do buat bener2 ilg. soalnya udah mendarah daging bahwa di indonesia orang selalu mementingkan sukunya.-dan dibeberapa suku udah d tanamkan norma bahwa kepentingan suku di atas kepentingan negara

    itu aja sih do, sori nih aku baca dikit post mu hehe

    BalasHapus