“Sudah Cukup
Santunkah Kita Mengupayakan Merdeka di Negeri Ini?”
17 Agustus,11.14
Tulisan ini saya buat sebagai
curahan hati, sharing¸unek-unek yang
bisa jadi renungan kita bersama. Uraian
ini hanya lebih dari sekedar opini, membuka ruang bertukar pendapat. Sebagai
seorang Indonesia, agaknya ini bisa menjadi salah satu pertanyaan yang
jawabannya tergantung pada masing-masing individu. Sebuah sentilan yang jarang
disuarakan, tetapi menjadi hal penting yang akhir-akhir ini hilang dan menimbulkan
masalah bagi negeri kita yang telah memasuki usia matang kemerdekaan.
Agustus, bulan dengan fakta
sejarah luar biasa yang menentukan bagaimana kita bisa tersenyum, berbicara,
dan beraktivitas di bumi pertiwi ini. Bulan yang menggairahkan kita, yang muda,
tua, laki-laki, perempuan,anak-anak, dewasa tentang kata “Nasionalisme/cinta
tanah air” dengan peringatan 17 Agustus, hari kemerdekaan bangsa yang besar
ini. Ragam kegiatan dilakukan, bentuk seremonial, perayaan suka cita, hingga
demonstrasi dan dialog kritis digelar untuk menunjukkan bahwa: kita ada,
bersama, sadar bahwa kita punya Indonesia, negeri yang dicinta, untuk harapan
menjadi semakin mulia ke depannya. Berbagai euforia, semangat, kepedulian
digelar, satu hal yang menggelitik saya ketika hampir di setiap perayaan 17
Agustus ini kita berhadapan pada satu pertanyaan: “Sudahkah kita merdeka saat
ini?”
Pertanyaan yang sulit untuk
dijawab menurut saya, dan memiliki berbagai sudut pandang untuk menjawabnya.
Perspektif ekonomi, sosial, politik, budaya, teknologi, dan sisi lain memiliki
argumen tersendiri untuk menjawab ini. Berbagai tajuk diskusi digelar untuk
merenungkan satu pertanyaan kritis ini, mengingat telah matang usia negara
Indonesia ini berdiri, ratusan juta penduduk masih belum menemukan keadilan
tentang hak memperoleh kemerdekaan ini. Buat saya, ada pertanyaan lain yang
dapat menjadi renungan kita bersama selain pertanyaan apakah kita benar-benar
merdeka. Bukan berpikir akan hak saja, melainkan kewajiban, dengan pertanyaan:
“Sudah cukup santunkah kita untuk mengupayakan kemerdekaan di Indonesia?”
Pikiran ini muncul dalam benak
saya melihat apa yang terjadi satu tahun ini di Indonesia. Satu hal yang saat
ini sering hilang: “TOLERANSI, SALING MENGHARGAI”. Sebuah pertanyaan yang
melempar kita pada ruang introspeksi diri, menjadi renungan mendalam dan
menjadi lecutan kita untuk jadi lebih baik dalam berbagai sisi. Saya ingin
berpikir agak anti mainstream, ketika
pertanyaan apakah kita telah merdeka menjadi lagu wajib yang disuarakan setiap
17 Agustus ini, coba kita ubah menjadi pertanyaan bagi kita sendiri bangsa
Indonesia sudah cukup santun menghargai hak-hak kemerdekaan bangsa kita
sendiri.
Coba kita tengok kembali ke
belakang ketika pejuang kita merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Semangat
kebhinekaan teraktualisasi pada perumusan Pembukaan UUD 1945 dan
Pancasila,bagaimana sisi kemanusiaan, saling menghormati dalam keragaman agama
dan budaya menjadi landasan kehidupan bermasyarakat bernegara. Semangat pemuda
dari berbagai daerah, berbagai golongan dan kalangan menyatukan berbagai
persepsi untuk gagasan kesatuan. Pasca merdeka, perjuangan pun diteruskan,
untuk berjuang menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Reformasi menghadirkan
kita kebebasan berpendapat, melepas diri dari belenggu penganiayaan atas kritik
negara. 15 tahun reformasi ini kita patut bersyukur atas segala kondisi yang
kita nikmati di Indonesia saat ini.
Faktanya, hal yang terjadi saat ini adalah bagaimana kita tak bisa menghargai kemerdekaan yang telah dihadirkan dewasa ini. Berbagai masalah terjadi berpangkal pada satu hal: bagaimana kita tidak bisa menghormati hak individu/kelompok masing-masing, memaksakan kehendak pada orang lain. Intoleransi kehidupan beragama, penganiayaan kelompok tertentu, perdebatan memaksakan pendapat masing-masing, diskriminasi, penghinaan kaum tertentu menjadi topik berita yang dihadirkan pada satu tahun ini. Keprihatinan tentu melanda kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal menjunjung budaya kesantunan, menghargai satu sama lain. Kita merdeka sebagai bangsa yang beragam, mengapa kita tak dapat menghormati kemerdekaan ragam bangsa Indonesia kita ini. Bagaimana kita bisa bertanya sudahkah kita merdeka kita seutuhnya apabila kita masih belum bisa menghormati hak dasar dari saudara-saudara kita. Bagaimana kita bisa berharap bangsa ini maju, melesat seutuhnya apabila kita menghalangi saudara kita untuk bergerak berkembang. Bagaimana kita menginginkan negeri kita ini bebas, mengelola kekayaan kita seutuhnya, lepas dari cengkraman negara asing kalau kita sendiri tak dapat melakukan konsolidasi ide, bertekad kuat bersama memperjuangkan kekayaan kita. Bagaimana kita mengharapkan negara ini lepas dari berbagai masalah, kalau kita sendiri tak mengulurkan tangan pada saudara kita untuk lepas dari masalah, bahkan membuat masalah sendiri di tanah air tercinta ini. Bagaimana kita mengharap merdeka ini bebas pemikiran dari hal-hal negatif yang merusak bangsa kalau kita sendiri yang justru membuat fitnah-fitnah yang menyulut konflik antar golongan. Bagaimana kita berharap merdeka ini kita solid, bersatu tanpa adanya pemberontakan tanpa kita berlaku adil dan peduli pada bangsa kita di perbatasan. Ada penelitian menarik bahwa 90%masalah yang terjadi pada kita adalah karena kesalahan kita sendiri. Kalau ini kita asosiasikan pada negara kita, untuk mengatakan ini adalah belenggu merdeka, maka kita perlu melepaskan belenggu merdeka pada bangsa kita, bersikap santun menghormati hak-hak saudara kita.
Faktanya, hal yang terjadi saat ini adalah bagaimana kita tak bisa menghargai kemerdekaan yang telah dihadirkan dewasa ini. Berbagai masalah terjadi berpangkal pada satu hal: bagaimana kita tidak bisa menghormati hak individu/kelompok masing-masing, memaksakan kehendak pada orang lain. Intoleransi kehidupan beragama, penganiayaan kelompok tertentu, perdebatan memaksakan pendapat masing-masing, diskriminasi, penghinaan kaum tertentu menjadi topik berita yang dihadirkan pada satu tahun ini. Keprihatinan tentu melanda kita sebagai bangsa Indonesia yang dikenal menjunjung budaya kesantunan, menghargai satu sama lain. Kita merdeka sebagai bangsa yang beragam, mengapa kita tak dapat menghormati kemerdekaan ragam bangsa Indonesia kita ini. Bagaimana kita bisa bertanya sudahkah kita merdeka kita seutuhnya apabila kita masih belum bisa menghormati hak dasar dari saudara-saudara kita. Bagaimana kita bisa berharap bangsa ini maju, melesat seutuhnya apabila kita menghalangi saudara kita untuk bergerak berkembang. Bagaimana kita menginginkan negeri kita ini bebas, mengelola kekayaan kita seutuhnya, lepas dari cengkraman negara asing kalau kita sendiri tak dapat melakukan konsolidasi ide, bertekad kuat bersama memperjuangkan kekayaan kita. Bagaimana kita mengharapkan negara ini lepas dari berbagai masalah, kalau kita sendiri tak mengulurkan tangan pada saudara kita untuk lepas dari masalah, bahkan membuat masalah sendiri di tanah air tercinta ini. Bagaimana kita mengharap merdeka ini bebas pemikiran dari hal-hal negatif yang merusak bangsa kalau kita sendiri yang justru membuat fitnah-fitnah yang menyulut konflik antar golongan. Bagaimana kita berharap merdeka ini kita solid, bersatu tanpa adanya pemberontakan tanpa kita berlaku adil dan peduli pada bangsa kita di perbatasan. Ada penelitian menarik bahwa 90%masalah yang terjadi pada kita adalah karena kesalahan kita sendiri. Kalau ini kita asosiasikan pada negara kita, untuk mengatakan ini adalah belenggu merdeka, maka kita perlu melepaskan belenggu merdeka pada bangsa kita, bersikap santun menghormati hak-hak saudara kita.
Akhir tulisan ini saya mengutip
wejangan warisan Bung Karno yang dapat membuat kita bisa memahami secara mendalam”
Sudahkah, Apakah kita sudah cukup santun mengupayakan merdeka di Indonesia?”
“Perjuanganku akan lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi
perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
kalau Indonesia ane rasa blm merdeka semerdeka-merdekanya? knp?
BalasHapus.dalam merumuskan aturan dan kebijakan, kita masih banyak campur tangan asing secara lgsg ataupun gk lgsg -pernah waktu itu indo mau ttp keran impor diprotes ama pbb
.kalau masalah hak dan keberagaman rasanya msh sulit do buat bener2 ilg. soalnya udah mendarah daging bahwa di indonesia orang selalu mementingkan sukunya.-dan dibeberapa suku udah d tanamkan norma bahwa kepentingan suku di atas kepentingan negara
itu aja sih do, sori nih aku baca dikit post mu hehe