Minggu, 16 Februari 2014

Memahami Kekuatan ‘Kita’

2014,akhirnya tibalah kita pada tahun yang menentukan arah masa depan Indonesia. Berbagai statemen meramalkan akan terjadi banyak dinamika, kejadian, bahkan dihubungkan dengan hal mistik dan takhayul Indonesia akan dilanda banyak masalah apabila pejabat negara terus memperkaya diri dan masyarakat tidak mau menjaga lingkungannya. Bencana yang terjadi di awal tahun, banjir, gunung meletus, gempa bumi, seakan menjawab ramalan dan menambah ketakutan Indonesia menuju gerbang keterpurukan.

 Saya mencoba melihat apa yang terjadi dari perspektif lain. Penekanan bukan pada setuju atau tidak setuju Indonesia menuju kegelapan dengan hadirnya banyak bencana di awal tahun 2014, melainkan apa yang bisa kita bangun dari awal untuk menghadapi tantangan dan momen menentukan yang hadir setiap tahunnya. Saya mencoba mencermati hal lain di balik pemberitaan yang menjadi trending topic awal tahun ini seperti geliat Pemilu 2014, keprihatinan akan bencana, sosok kontroversi yang menghiasi media dengan tingkat polahnya. Banyak hal lain yang tak terekam media, tetapi menjadi tolakan saya melihat tantangan dan apa yang harus dilakukan 2014 ini, seperti aksi #bangundaerah oleh pemimpin daerah muda dengan segala terobosan dan latar belakang, ragam prestasi yang muncul seperti juara ASEAN Para Games, Juara Piala AFF U-19, ataupun pencapaian luar biasa diaspora Indonesia dengan karya yang mereka buat. Tulisan ini bukan hanya berlatar titik tolak optimisme yang coba saya ambil, melainkan menjawab ketakutan dan kebutuhan dasar lahiriah kita, mendapat bahagia secara nyata dan utuh ke depannya. Kita tidak akan takut, dan terus bahagia di masa depan, apabila kita memahami kekuatan kita.

2014 ini menjadi tahun penuh bahaya dan peringatan buat kita semua. Bahaya karena ancaman instabilitas Pemilu, tarik menarik politik, satu lagi, satu tahun menuju Asean Economic Community 2015 (AEC 2015). AEC 2015 adalah gerbang kompetisi terbuka negara ASEAN dengan sumberdaya yang ada. Contoh nyatanya adalah kita bebas bekerja di instansi manapun yg ada di seluruh negara ASEAN, begitupula orang negara ASEAN lain bebas kerja di instansi di Indonesia. AEC 2015 ini menandakan kita semakin dekat dengan globalisasi nyata. Dunia semakin menyatu, integrasi mengikis idealisme negara yang tak diimbangi progresivitas. Lalu apa yang bisa kita lakukan.

Saya mencoba bercerita tentang ragam kegiatan yang dialami awal 2014 ini. Mulai dari menyusun resolusi, menggagas rencana besar. Mencari inspirasi, bertemu dengan kisah-kisah luar biasa. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari apa yang saya alami dan kisah yang saya dapatkan. Pertama bagaimana pergerakan teman dan kakak angkatan dengan kajian berbagai disiplin ilmu, model komunitas, ataupun gerakan membangun daerah dibangun secara kolektif. Kedua cerita dari aktivis organisasi yang memilih menimba ilmu di luar negeri sana, menantang dunia dengan idealisme yang mereka punya, untuk pulang memperjuangkan kebenaran dengan lebih taktis dan cerdas. Modal mereka hanya ada dua, keyakinan dan rasa kebersamaan.  Mereka membangun diri dengan keyakinan kalau mereka mampu mengaplikasikan dengan apa yang telah mereka pelajari, keluar dari zona nyaman untuk terus menjemput tantangan-tantangan, serta berpikir untuk manfaat yang lebih besar dari sekedar kemapanan diri sendiri. Mereka yakin, bahwa yang dapat menghentikan mereka hanyalah keraguan diri dan Takdir Tuhan untuk menjemput kita. Adanya rasa kebersamaan, komitmen untuk mengekang ego untuk niat untuk membangun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan ini secara bahu-membahu dan saling percaya. Frasa “KITA” dibanding “Aku” ini sangat penting demi luasnya lingkup perubahan yang diharapkan. Berawal dari keyakinan pribadi, berbagi ide, membangun komitmen awal, saling menguatkan, itulah jawaban dari apa yang bisa kita lakukan untuk membawa Indonesia ke angin positif perubahan. Dengan memahami kekuatan kita, tak ada yang menghentikan kita selain niat mengakhirinya sendiri untuk  menjawab rasa takut, menghadapi 2014 yang penuh “bahaya”, menggantinya menjadi langit cerah dengan senyum bahagia di masa depan bumi pertiwi kita. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar