2014,akhirnya tibalah kita pada tahun yang
menentukan arah masa depan Indonesia. Berbagai statemen meramalkan akan terjadi
banyak dinamika, kejadian, bahkan dihubungkan dengan hal mistik dan takhayul
Indonesia akan dilanda banyak masalah apabila pejabat negara terus memperkaya
diri dan masyarakat tidak mau menjaga lingkungannya. Bencana yang terjadi di
awal tahun, banjir, gunung meletus, gempa bumi, seakan menjawab ramalan dan menambah
ketakutan Indonesia menuju gerbang keterpurukan.
Saya
mencoba melihat apa yang terjadi dari perspektif lain. Penekanan bukan pada
setuju atau tidak setuju Indonesia menuju kegelapan dengan hadirnya banyak
bencana di awal tahun 2014, melainkan apa yang bisa kita bangun dari awal untuk
menghadapi tantangan dan momen menentukan yang hadir setiap tahunnya. Saya
mencoba mencermati hal lain di balik pemberitaan yang menjadi trending topic awal tahun ini seperti
geliat Pemilu 2014, keprihatinan akan bencana, sosok kontroversi yang menghiasi
media dengan tingkat polahnya. Banyak hal lain yang tak terekam media, tetapi
menjadi tolakan saya melihat tantangan dan apa yang harus dilakukan 2014 ini,
seperti aksi #bangundaerah oleh pemimpin daerah muda dengan segala terobosan
dan latar belakang, ragam prestasi yang muncul seperti juara ASEAN Para Games,
Juara Piala AFF U-19, ataupun pencapaian luar biasa diaspora Indonesia dengan karya
yang mereka buat. Tulisan ini bukan hanya berlatar titik tolak optimisme yang
coba saya ambil, melainkan menjawab ketakutan dan kebutuhan dasar lahiriah
kita, mendapat bahagia secara nyata dan utuh ke depannya. Kita tidak akan
takut, dan terus bahagia di masa depan, apabila kita memahami kekuatan kita.
2014 ini menjadi tahun penuh bahaya dan peringatan
buat kita semua. Bahaya karena ancaman instabilitas Pemilu, tarik menarik
politik, satu lagi, satu tahun menuju Asean
Economic Community 2015 (AEC
2015). AEC 2015 adalah gerbang kompetisi terbuka negara ASEAN dengan sumberdaya
yang ada. Contoh nyatanya adalah kita bebas bekerja di instansi manapun yg ada
di seluruh negara ASEAN, begitupula orang negara ASEAN lain bebas kerja di
instansi di Indonesia. AEC 2015 ini menandakan kita semakin dekat dengan globalisasi
nyata. Dunia semakin menyatu, integrasi mengikis idealisme negara yang tak
diimbangi progresivitas. Lalu apa yang bisa kita lakukan.
Saya mencoba bercerita tentang ragam
kegiatan yang dialami awal 2014 ini. Mulai dari menyusun resolusi, menggagas
rencana besar. Mencari inspirasi, bertemu dengan kisah-kisah luar biasa. Ada
beberapa pelajaran yang bisa diambil dari apa yang saya alami dan kisah yang
saya dapatkan. Pertama bagaimana pergerakan teman dan kakak angkatan dengan
kajian berbagai disiplin ilmu, model komunitas, ataupun gerakan membangun
daerah dibangun secara kolektif. Kedua cerita dari aktivis organisasi yang
memilih menimba ilmu di luar negeri sana, menantang dunia dengan idealisme yang
mereka punya, untuk pulang memperjuangkan kebenaran dengan lebih taktis dan
cerdas. Modal mereka hanya ada dua, keyakinan dan rasa kebersamaan. Mereka membangun diri dengan keyakinan kalau
mereka mampu mengaplikasikan dengan apa yang telah mereka pelajari, keluar dari
zona nyaman untuk terus menjemput tantangan-tantangan, serta berpikir untuk
manfaat yang lebih besar dari sekedar kemapanan diri sendiri. Mereka yakin,
bahwa yang dapat menghentikan mereka hanyalah keraguan diri dan Takdir Tuhan
untuk menjemput kita. Adanya rasa kebersamaan, komitmen untuk mengekang ego
untuk niat untuk membangun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan ini secara
bahu-membahu dan saling percaya. Frasa “KITA” dibanding “Aku” ini sangat
penting demi luasnya lingkup perubahan yang diharapkan. Berawal dari keyakinan
pribadi, berbagi ide, membangun komitmen awal, saling menguatkan, itulah
jawaban dari apa yang bisa kita lakukan untuk membawa Indonesia ke angin
positif perubahan. Dengan memahami kekuatan kita, tak ada yang menghentikan
kita selain niat mengakhirinya sendiri untuk menjawab rasa takut, menghadapi 2014 yang
penuh “bahaya”, menggantinya menjadi langit cerah dengan senyum bahagia di masa
depan bumi pertiwi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar