Kamis, 04 Juli 2013

Inspirasi dari Seorang Habibie






Sebenarnya ada beberapa target postingan tulisan yang saya agendakan selesai malam mini, termasuk untuk mengikuti beberapa kompetisi menulis yang ada. Namun, inspirasi yang saya dapatkan dari novel yang saya habiskan hari ini dan juga film membuat saya berpikir untuk menulis hal yang sedikit lebih ringan, sebuah perenungan yang mungkin bisa dibaca oleh rekan-rekan mahasiswa yang memiliki karakter dan passion yang berbeda-beda.
Akhir-akhir ini media sosial dan pemberitaan dipenuhi oleh berbagai perumusan kebijakan yang mendapat pro kontra dari mahasiswa maupun masyarakat karena sarat akan penyimpangan-penyimpangan yang merugikan masyarakat. Tak heran dan tentunya kita lebih sering membaca dan mendengar pemberitaan, entah apapun kontennya sarat dengan muatan politis maupun kritikan ideologis yang menjadi perdebatan antara pihak yang berseteru. Ambil contoh misalkan bagaimana Judicial Review UU Dikti yang memang menyimpan banyak persoalan, berbagai protes keras dan gerakan muncul untuk menolak liberalisasi pendidikan. Atau isu internasional penggulingan pemerintahan Mursi oleh militer. Bila kia flashback ke belakang, kita dapa mencermati perdebatan di berbagai media tentang penyikapan tentang kenaikan harga BBM. Semua isu yang beredar disikapi akan hal yang sama: Berupaya untuk menjadi seorang yang ahli terkait isu tersebut, melakukan penyikapan-penyikapan sederhana untuk menunjukkan pandangannya, serta terjebak dalam muatan politis itu, rebut memandang apakah ini harus dibela/ditolak, dll.
Salahkah mindset gerakan mahasiswa-utamanya yang mendeklarasikan diri sebagai aktivis itu? Tentu tidak, saya sendiri menganggap itu adalah naluri alamiah mahasiswa yang mencoba kritis terhadap berbagai masalah dan berupaya untuk mengambil sikap terhadap suatu permasalahan. Saya sendiri sering melakukan hal itu, tetapi selalu pertanyaan yang muncul adalah, apa iya mahasiswa hanya dapat berpikir kritis, ikut arus saja, tanpa memberi warna dan penerangan pada sebuah masalah?
Salah satu inspirasi dari jawaban pertanyaan saya di atas adalah ketika saya (baru saja dan terlihat ga update ) menonton film Habibie Ainun. Emosi saya bergejolak, tidak hanya menjadi mellow ketika saya melihat Ibu Ainun dengan setia menemani kesibukan Bapak Habibie hingga akhir hayatnya, tetapi juga ada pelajaran-pelajaran yang bisa saya petik dari film tersebut. Inspirasi dari presiden berlatarbelakang teknokrat-inventor-saintis yang tak lelah untuk menimba ilmu ke luar negeri sana, belajar dari teknologi teraktual di sana, untuk bertekad kembali ke Indonesia dan melakukan suatu ide yang sebelumnya tak terpikirkan oleh Indonesia: membuat industri pesawat terbang. Tak terpikirkan, bahkan menjadi lelucon bagi sebagian orang melihat Indonesia mampu membuat pesawat dan menerbangkannya. Bapak Habibie menunjukkan kalau dia bisa, dia mampu mewujudkan rasa cinta pada bangsanya dengan karya, produk kejeniusan otaknya berupa pesawat terbang. Pelajaran apa lagi yang bisa diambil dari seorang Habibie?
Ada satu statemen menarik ketika beliau menunjukkan kekecewaannya ketika beliau purna menjabat presiden, kembali pada industri pesawat yang telah dirintisnya. Beliau mengungkapkan kekecewaannya pada Pemerintah dan pihak-pihak yang terlalu sibuk dengan urusan lain-lain sehingga tak terpikir untuk mengembangkan industri pesawat yang menjadi idenya. Gambaran beliau akan kemajuan Indonesia dengan berkembangnya industri pesawat sebagai penghubung antar pulau dan menekan cost transportasi hilang sudah karena tidak kondusifnya suasana pemerintahan dan ketidakberpihakan pemerintah akan pengembangan ilmu pengetahuan ini. Ada suatu mimpi besar seorang mahasiwa yang menghabiskan masa bakti ilmu di Jerman, berkembang dan menjadi salah satu insinyur terkemuka disana, bertekad dengan nasionalismenya kembali untuk mengimplementasikan apa yang beliau pelajari di Indonesia. Sayangnya semua itu pupus, karena ketidak berpihakan pemerintah dan situasi kondisi…
Apa yang bisa kita pelajari dari cerita yang disampaikan di paragraph sebelumnya? Bahwa negeri Indonesia ini TIDAK AKAN MAJU SECARA PROGRESIF OLEH GENERASI MANAPUN APABILA KITA MASIH SAJA BERFOKUS PADA PERDEBATAN MASALAH-MASALAH, TANPA BERPIKIR UNTUK MENGEMBANGKAN SESUATU UNTUK JAWABAN MASALAH-MASALAH INDONESIA. Statemen ini saya tulis dalam huruf capital semua untuk menjelaskan bagaimana negeri ini sebenarnya butuh Habibie-Habibie, teknokrat-insinyur-inventor dan pakar yang memiliki keahlian di bidangnya, memiliki passion tinggi pada kegiatan yang digeluti menjadi produk-produk yang menyelesaikan masalah yang ada di negara kita. Tak cukup satu Habibie mengingat negeri ini perlu dibangun dalam berbagai aspek, dan tak perlu lagi kekecewaan lanjutan untuk membantu membangun bangsa ini dalam langkah yang lebih konstruktif. Tak perlu lagi mahasiswa membebek, berupaya menjadi pakar dalam bidang isu yang dibicarakan hangat, mengkritik/membela tanpa ada langkah lanjutan, tetapi bagaimana mereka fokus pada bidang ilmu kuliah, passion yang digeluti untuk melakukan hal yang membangun bagi Indonesia. Saya sangat terharu melihat bagaimana seorang Habibie insinyur terkemuka dengan kecerdasan yang diakui di pakar teknologi di Jerman, dengan ambisius mengembangkan kompetensi ilmu mekanika yang beliau geluti, kemudian dengan bersahaja kembali ke Indonesia mengembangkan hal itu sehingga lahirnya pesawat N250 karya IPTN. Bisakah langkah itu dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, fokus pada ilmu kuliah dan passion passion yang digeluti, mengembangkan secara ambisius hingga unggul tidak hanya dalam melainkan luar negeri, untuk kemudian mengaktualisasikan ilmu yang didapat menjadi karya yang membangun Indonesia. Akankah ini dapat terlaksana? Yakini, dan Pastikan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar