Sebenarnya
ada beberapa target postingan tulisan yang saya agendakan selesai malam mini,
termasuk untuk mengikuti beberapa kompetisi menulis yang ada. Namun, inspirasi
yang saya dapatkan dari novel yang saya habiskan hari ini dan juga film membuat
saya berpikir untuk menulis hal yang sedikit lebih ringan, sebuah perenungan
yang mungkin bisa dibaca oleh rekan-rekan mahasiswa yang memiliki karakter dan passion yang berbeda-beda.
Akhir-akhir
ini media sosial dan pemberitaan dipenuhi oleh berbagai perumusan kebijakan
yang mendapat pro kontra dari mahasiswa maupun masyarakat karena sarat akan
penyimpangan-penyimpangan yang merugikan masyarakat. Tak heran dan tentunya
kita lebih sering membaca dan mendengar pemberitaan, entah apapun kontennya
sarat dengan muatan politis maupun kritikan ideologis yang menjadi perdebatan
antara pihak yang berseteru. Ambil contoh misalkan bagaimana Judicial Review UU Dikti yang memang
menyimpan banyak persoalan, berbagai protes keras dan gerakan muncul untuk menolak
liberalisasi pendidikan. Atau isu internasional penggulingan pemerintahan Mursi
oleh militer. Bila kia flashback ke
belakang, kita dapa mencermati perdebatan di berbagai media tentang penyikapan
tentang kenaikan harga BBM. Semua isu yang beredar disikapi akan hal yang sama:
Berupaya untuk menjadi seorang yang ahli terkait isu tersebut, melakukan
penyikapan-penyikapan sederhana untuk menunjukkan pandangannya, serta terjebak
dalam muatan politis itu, rebut memandang apakah ini harus dibela/ditolak, dll.
Salahkah mindset gerakan mahasiswa-utamanya yang
mendeklarasikan diri sebagai aktivis itu? Tentu tidak, saya sendiri menganggap
itu adalah naluri alamiah mahasiswa yang mencoba kritis terhadap berbagai
masalah dan berupaya untuk mengambil sikap terhadap suatu permasalahan. Saya
sendiri sering melakukan hal itu, tetapi selalu pertanyaan yang muncul adalah,
apa iya mahasiswa hanya dapat berpikir kritis, ikut arus saja, tanpa memberi
warna dan penerangan pada sebuah masalah?
Salah satu
inspirasi dari jawaban pertanyaan saya di atas adalah ketika saya (baru saja
dan terlihat ga update ) menonton
film Habibie Ainun. Emosi saya bergejolak, tidak hanya menjadi mellow ketika saya melihat Ibu Ainun
dengan setia menemani kesibukan Bapak Habibie hingga akhir hayatnya, tetapi
juga ada pelajaran-pelajaran yang bisa saya petik dari film tersebut. Inspirasi
dari presiden berlatarbelakang teknokrat-inventor-saintis yang tak lelah untuk
menimba ilmu ke luar negeri sana, belajar dari teknologi teraktual di sana,
untuk bertekad kembali ke Indonesia dan melakukan suatu ide yang sebelumnya tak
terpikirkan oleh Indonesia: membuat industri pesawat terbang. Tak terpikirkan,
bahkan menjadi lelucon bagi sebagian orang melihat Indonesia mampu membuat
pesawat dan menerbangkannya. Bapak Habibie menunjukkan kalau dia bisa, dia
mampu mewujudkan rasa cinta pada bangsanya dengan karya, produk kejeniusan
otaknya berupa pesawat terbang. Pelajaran apa lagi yang bisa diambil dari
seorang Habibie?
Ada satu
statemen menarik ketika beliau menunjukkan kekecewaannya ketika beliau purna menjabat
presiden, kembali pada industri pesawat yang telah dirintisnya. Beliau
mengungkapkan kekecewaannya pada Pemerintah dan pihak-pihak yang terlalu sibuk
dengan urusan lain-lain sehingga tak terpikir untuk mengembangkan industri
pesawat yang menjadi idenya. Gambaran beliau akan kemajuan Indonesia dengan
berkembangnya industri pesawat sebagai penghubung antar pulau dan menekan cost transportasi hilang sudah karena
tidak kondusifnya suasana pemerintahan dan ketidakberpihakan pemerintah akan
pengembangan ilmu pengetahuan ini. Ada suatu mimpi besar seorang mahasiwa yang
menghabiskan masa bakti ilmu di Jerman, berkembang dan menjadi salah satu insinyur
terkemuka disana, bertekad dengan nasionalismenya kembali untuk
mengimplementasikan apa yang beliau pelajari di Indonesia. Sayangnya semua itu
pupus, karena ketidak berpihakan pemerintah dan situasi kondisi…
Apa yang
bisa kita pelajari dari cerita yang disampaikan di paragraph sebelumnya? Bahwa
negeri Indonesia ini TIDAK AKAN MAJU SECARA PROGRESIF OLEH GENERASI MANAPUN
APABILA KITA MASIH SAJA BERFOKUS PADA PERDEBATAN MASALAH-MASALAH, TANPA BERPIKIR
UNTUK MENGEMBANGKAN SESUATU UNTUK JAWABAN MASALAH-MASALAH INDONESIA. Statemen
ini saya tulis dalam huruf capital semua untuk menjelaskan bagaimana negeri ini
sebenarnya butuh Habibie-Habibie, teknokrat-insinyur-inventor dan pakar yang
memiliki keahlian di bidangnya, memiliki passion tinggi pada kegiatan yang
digeluti menjadi produk-produk yang menyelesaikan masalah yang ada di negara
kita. Tak cukup satu Habibie mengingat negeri ini perlu dibangun dalam berbagai
aspek, dan tak perlu lagi kekecewaan lanjutan untuk membantu membangun bangsa
ini dalam langkah yang lebih konstruktif. Tak perlu lagi mahasiswa membebek,
berupaya menjadi pakar dalam bidang isu yang dibicarakan hangat,
mengkritik/membela tanpa ada langkah lanjutan, tetapi bagaimana mereka fokus
pada bidang ilmu kuliah, passion yang
digeluti untuk melakukan hal yang membangun bagi Indonesia. Saya sangat terharu
melihat bagaimana seorang Habibie insinyur terkemuka dengan kecerdasan yang
diakui di pakar teknologi di Jerman, dengan ambisius mengembangkan kompetensi
ilmu mekanika yang beliau geluti, kemudian dengan bersahaja kembali ke
Indonesia mengembangkan hal itu sehingga lahirnya pesawat N250 karya IPTN.
Bisakah langkah itu dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, fokus pada
ilmu kuliah dan passion passion yang
digeluti, mengembangkan secara ambisius hingga unggul tidak hanya dalam
melainkan luar negeri, untuk kemudian mengaktualisasikan ilmu yang didapat
menjadi karya yang membangun Indonesia. Akankah ini dapat terlaksana? Yakini,
dan Pastikan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar